Tekanan Batin Mahasiswa

Kedengarannya sih emang bosen ngedenger saya ini yang ngedumel mulu. Apalagi ngedumel soal yang namanya kuliah. Tapi kalo saya boleh ngomong apa yang sebenernya saya rasain sekarang tuh, aduh……………..mungkin agak sedikit berkurang kali ya beban batin saya sekarang ini. Saya mau cerita soal kejadian yang ngebuat saya kecewa belakangan ini dan kejadian itu sekaligus ngejadiin dan ngajarin saya bahwa sebenernya hidup itu mudah lagi.

Abis ujian, ga biasanya saya tuh ngegalau. Kalaupun emang pernah, tapi ga sampe kayak sekarang. Nilai UTS mata kuliah pendidikan pancasila waktu senin kemaren lusa udah diumumin. Ga kayak biasa, hasilnya ga ditempel sama pihak direktorat TPB (kalo di IPB, tahun pertama kita disebutnya sebagai Tingkat Persiapan Bersama. Jadi, belum sepenuhnya kita masuk jurusan kita), tapi langsung diumumin sama dosen mata kuliahnya. Satu-satu nama sesuai NIM disebut. Selama saya nunggu nama saya dipanggil, yang saya pikirin ga karuan. Cuma doa. Eh, pas udah sampe ke NIM B04110032 langsung dah hati ini lemesssss banget. Saya cuma dapet 74 dari hasil kerja keras saya selama ini. Yang tambah bikin gondok tuh ya, Cuma kurang 2 poin dari range mutu A. Spontan saya hopeless, mau marah tapi ama siapa. Mau ngamuk, tapi itu ruang kelas umum. Mau nonjokin orang, tapi ga ada alesannya kenapa saya harus nonjok orang. Kecewa banget sama hasilnya. Setelahnya saya cuma bisa mikir, gimana caranya dapetin nilai akhir 76 untuk bisa dapetin tuh mutu keramat yang diidam-idamin sama seluruh mahasiswa di Indonesia. Setelah saya itung-itung ternyata hasilnya cukup menantang buat saya dapetin. Karena UTS hanya diambil 30% nya, jadi di sesi UTS ini saya baru punya poin 22.2%. Penilaiannya kayak gini 30% UTS+30% UAS+40% kolokium. Berarti, saya masih kurang 53.8% lagi buat dapetin nilai akhir 76. Ga mungin dong, kolokium saya dapet bulet 40%, pasti kepotong sekitar 5%-an atau lebih. Saya sekarang ini frustasi ga tau harus gimana. Yang jelas saya harus bisa dapetin nilai 80 di UAS biar poin UAS saya 24%. Kalo itu bisa saya dapetin, itu artinya kolokium saya tinggal berdoa biar bisa nambahin sekitar 29.8% lagi. Atau 32% dari kolokium, dan UAS tinggal nambahin 21.8% aja. Jadi, saya harus dapetin nilai sekitar 70an. Ga terlalu berat buat saya kalo misalnya Cuma 70an.

Trus, berikutnya hasil UTS sosiologi umum yang ngebuat saya tambah terpuruk di jurang keputusasaan. Saya, sosiologi cuma dapetin nilai 69. Suatu hal di luar kebiasaan untuk mata kuliah yang sifatnya sosial dan analisa saya cuma dapet segitu. Kalo di sosiologi umum, persentase penilaiannya ngikutin kayak gini, 30% UTS+35%UAS+35% praktikum. Dan kalo gitu, di sesi UTS ini saya cuma dapetin poin 20.7%. jauh dari harapan saya. Jauuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh banget. Itu berarti namanbahin beban saya di UAS dan praktikumnya. Eia saya belum bilang, mutu A di sosum (singkatan sosiologi umum) itu sekitar 75, tapi asisten praktikum bilang akan disesuaiin sama rataan satu angkatan. Satu-satunya jalan keluar yang bisa diminta sama Allah adalah merendahkan nilai rataan itu agar saya ga terlalu berat mengejar ketinggalan saya di sesi UAS nanti. Atau kalo misalnya standarnya beneran 75, saya mesti dapet 80 di UAS biar saya dapet poin UAS sekitar 28%. Kalo ditambah sama UTS, saya baru dapet 48.7% dan saya harus berjuang di praktikum biar ngasilin poin 26.3% dan itu artinya nilai praktikum saya harus dapet 75 keatas biar dapet nutupin kekurangannya. Tambah stress kan saya jadinya. Tapi, saya percaya, di balik semuanya Allah itu selalu ngasih kejutan pada akhirnya. Dengan doa yang selalu dipanjatkan pastinya bisa kok ngebantu kita buat dapetin apa yang kita mau. Saya masih punya Allah yang selalu menunjukkan keajaibannya di waktu-waktu yang ga terduga dalam hidup. Di sini saya belajar, bahwa untuk menjadi pribadi yang tangguh diharuskan hal-hal yang seperti ini. Semoga apa yang Allah berikan adalah hal yang saya butuhkan. Allah tau, saya UTS memang hanya butuh segitu doang.

Nowwwww……….just smile, don’t cry, and must studying and praying harder. Ok Rifky? You can do it guys :-)

Demam, Baik atau Buruk?

        Ketika saya masih berada di semester pertama menjadi mahasiswa Kedokteran Hewan dan mendapatkan pemahaman materi mengenai beberapa anggota kingdom Protista yang bersifat patogen pada mata kuliah Biologi dasar , saya pernah berpikir dengan polosnya, “Lho, kenapa sih kok demam itu harus diturunkan? Bukannya bagus ya? Kan bakteri patogen pada umumnya adalah jenis yang ga akan bertahan pada suhu tinggi karena mereka itu tidak memiliki stuktur membran sel yang berantai karbon panjang dan bercabang, jadi kan mereka bisa dimatikan dengan suhu tinggi ketika demam?”. Namun, karena terlalu takut dan saya tergolong tipe orang yang enggan untuk bertanya dan selalu ingin menyimpulkan sesuatunya sendiri, maka saya mengurungkan niat untuk mengutarakan pertanyaan polos tersebut kepada dosen yang mengajar saya ketika itu. Inilah alasan hipotesa saya pada waktu itu mengapa saya lebih setuju kalau misalnya demam itu dibiarkan saja turun dengan sendirinya dan tidak perlu pasien diberikan obat antipiretik.

      Bakteri patogen adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan suatu penyakit kepada inang yang ia tumpangi. Biasanya bakteri jenis ini memiliki stuktur membran yang tidak memiliki rantai karbon bercabang  pada fosfolipidnya. Contoh bakteri yang termasuk ke dalam bakteri patogen yang apabila menyerang inangnya menyebabkan penyakit dengan gejala atau symptom demam tinggi (FAO 2008) adalah Leptospira sp. yang merupakan penyebab penyakit zoonosis Leptospirosis pada berbagai hewan dan juga dapat menyerang manusia yang ditularkan melalui air seni dari individu yang terserang penyakit ini atau di masyarakat lebih dikenal penyakit yang berasal dari air seni tikus (Anonim 2008). Bakteri ini akan mati pada suhu 50℃-55℃ (Anonim 2008). Walaupun demam tidak mungkin mencapai suhu setinggi itu, namun setidaknya demam dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut di dalam tubuh.

      Namun apa yang saya pikirkan ternyata sangat keliru. Ketika pada semester kedua, dosen Biokimia saya mengingatkan saya tentang satu hal. Saya lupa, bahwa suhu tinggi pada tubuh justru sangat berakibat fatal terhadap homeostatis. Tubuh makhluk hidup sebagian besar dibangun oleh protein. Protein merupakan makromolekul yang memiliki sifat terdenaturasi ketika suhu lingkungan menjadi tinggi melebihi suhu normal dan ini juga yang berlaku untuk protein-protein yang terdapat di dalam tubuh. Enzim adalah salah satu protein di dalam tubuh manusia dan hewan. Enzim juga dapat terdenaturasi akibat adanya pemanasan. Apabila enzim mengalami hal demikian, maka enzim menjadi inaktif untuk dapat mengikat substat akibat terjadinya perubahan bentuk sisi aktifnya. Hal inilah yang menyebabkan individu apabila terkena gejala demam menjadi lesu akibat sulitnya makanan untuk dicerna karena enzim pencerna makanan menjadi inaktif dan akibat yang lebih fatal lagi mungkin dapat menyebabkan kematian. Maka dari itu, saya jadi berpikir lagi, apabila demam tidak diturunkan dengan memberikan obat jenis antipiretik kepada pasien, seperti paracetamol, maka yang saya lakukan justru akan menyebabkan pasien saya semakin bertambah saja sakitnya atau mungkin malah akan membunuh pasien.

      Ini menyadarkan saya bahwa seorang calon dokter hewan hendaknya tidak terburu-buru dalam mengambil sebuah kesimpulan ketika mendiagnosa. Dengan mempertimbangkan berbagai hal merupakan cara terbaik agar didapatkan sebuah kesimpulan yang paripurna dan dihasilkan sebuah pengobatan yang tepat dan cepat. Saya sangat berharap adanya sebuah pengecekan terhadap artikel ini apabila terdapat hal-hal yang belum atau tidak sesuai dengan literatur karena pada dasarnya saya tetap seorang mahasiswa Kedokteran Hewan yang masih perlu bimbingan dalam hal menganalisis suatu aspek klinis.

Terima kasih.

 

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2008. Leptospirosis pada babi. http://www.vet-klinik .com/Peternakan/Leptospirosis-pada-babi.html (16 April 2012).

________. 2008. Leptospirosis. http://www.vet-indo.com/Kasus-Medis/Leptospirosis.html (16 April 2012).

[FAO]. 2008. Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan. Sleman: PT Tiara Wacana Yogya.

Lho

Indahnya Orkestra Kehidupan Sang Pencipta

Anatomi Veteriner I dan Biokimia Umum telah saya lalui selama setengah semester. Walau baru sebentar, saya justru mendapatkan berbagai hal yang membuat saya takjub dengan apa yang telah Allah SWT ciptakan pada tiap makhluknya yang dirancang sangat sesuai dengan fungsinya dalam menjalani kehidupan.

Cerita dimulai dari matakuliah Anatomi yang mengenalkan saya pada tulang dan otot. Begitu hebatnya Sang Pencipta merancang diameter tulang panggul atau Os coxae dari seekor hewan betina. Allah membentuknya seperti sebuah lingkaran hampir sempurna sebagai jalan partus agar ketika fetus atau bayi dilahirkan tidak terlalu sulit ia keluar dari rahim sang induk. Dapat dibayangkan apabila diameter itu berbentuk oval seperti yang dimiliki oleh pejantan, fetus yang dilahirkan akan sulit keluar karena sisi kiri dan kanan jalur partus lebih sempit daripada sisi atas dan bawahnya.

Kemudian Biokimia Umum menyadarkan saya bahwa molekul sekali pun dapat menjadi implementasi kebesaran Sang Pencipta. Air yang merupakan suatu zat biasa ternyata memiliki banyak keunikan yang justru keunikan tersebut sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Allah menjadikan air sebagai penyusun terbesar tubuh makhluk hidup karena berguna sebagai pelarut zat-zat makanan yang kita makan dan juga didasari oleh titik beku dan titik didih yang dimilikinya dapat sesuai dengan lingkungan di mana kita hidup.

Titik beku dan titik didih air yang masing-masing sebesar 0 dan 100 derajat celcius ini memiliki fungsinya tersendiri.

Kita dan hewan mamalia tidak akan pernah kehilangan air akibat penguapan pada suhu standar di mana manusia dan hewan dapat hidup, karena air hanya akan berubah menjadi uap pada suhu 100 derajat dan cairan tubuh kita juga tidak akan mudah membeku karena titik beku yang dimiliki air sangat rendah jika dibandingkan dengan pelarut lainnya. Jika pada saat penciptaan, Allah menggantikan air dengan bahan yang mudah menguap pada suhu lebih rendah daripada 100 derajat dan membeku pada suhu tinggi melebihi 0 derajat, tentunya kita dan hewan tidak akan bisa hidup sebagaimana mestinya.

Baru saja dua ciptaan kehidupan yang saya pelajari namun justru membuat saya tersadar apa sebenarnya makna dari firman-Nya pada Q.S Al Sajdah, 32: 7.

“Dia yang membaguskan segala sesuatu yang Dia ciptakan……”

Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Refleksi Diri

“Kau tidak akan pernah bisa menghitung nikmat yang telah Tuhanmu beri kepadamu selama ini.”

Itulah makna yang saya dapatkan dari Al-Qur’an dan beberapa hadist yang pernah saya baca. Allah Yang Maha Pemurah juga menekankan kembali pada surat cinta-Nya yang ditujukan pada seluruh ciptaan-Nya, termasuk kepada saya, “Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang engkau dustakan?”

Betapa bodohnya diri ini ketika meminta sesuatu setelah apa yang diminta sebelumnya telah dikabulkan oleh-Nya. Seharusnya saya malu, malu karena banyak meminta namun tak banyak melakukan kebaikan dan sangat jarang melakukan penghambaan yang sempurna terhadap-Nya.

Padahal, yang Ia minta adalah apa-apa yang dapat membuat saya menjadi seorang makhluk yang terhormat ketika di alam kekekalan kelak.

Diri ini terlalu sibuk terhadap dunia, sampai-sampai sangat jarang saya merenggangkan waktu terhadap urusan akhirat. Menjadi yang terbaik, ingin dipandang baik oleh orang lain, memperbaharui diri terhadap pergaulan fana, serta sifat kufur terhadap nikmat merupakan efek samping dari apa yang saya pikirkan mengenai dunia.

Dahi ini terkadang malas untuk tersujud rendah dihadapan-Nya, tangan ini terkadang berat untuk menampung air wudhu, kaki ini terkadang lemas untuk menjawab panggilan-Nya, mulut ini sering melukai perasaan manusia lain dengan keangkuhannya, serta mata dan telinga ini masih sering melihat dan mendengar apa yang bukan menjadi amanahnya.

Namun, apakah tubuh dan otak ini sadar akan semua itu?

Allah itu Maha Baik terhadap kehidupanmu. Ia menganugrahkan orangtua yang sepantasnya kau bahagiakan, Ia mengabulkan segala permintaanmu yang terdahulu, Ia memberikanmu fisik yang sempurna tanpa suatu kekurangan. Terlebih lagi, Ia telah meniupkan ruh dan menciptakan kehidupan untukmu di dunia.

Lalu, apa yang membuatmu merasa selalu tidak sempurna dalam segala hal? Tidak ada alasan untuk kau mempertanyakan keadaan yang menurutmu buruk kepada-Nya.

Andai saja pada waktu itu, ruh yang Ia tiupkan ke dalam jasadmu tidak jadi Ia tiupkan, atau ketika dalam perjalanan kembali ke kampus mu malaikat maut-Nya mengikutimu dan mengambil kenikmatan hidupmu yang selama ini kau sia-siakan……apa yang akan kau pertanggungjawabkan dihadapan-Nya kelak? Apakah kau sudah mampu ketika malaikat dalam kubur mengintrogasi mu dengan pertanyaan-pertanyaan “siapakah tuhanmu?” “siapakah pria yang diutus oleh tuhanmu kepadamu?” Apakah kau mampu menjawabnya?

Pikirkan itu sejenak, Rifky.

Pikirkan.

Entahlah…..??

Entahlah, aku bingung dengan keadaanku saat ini.

Aku seperti setan berwujud manusia yang tak tahu arti apa itu rasa bersyukur. Diberikan sesuatu yang melebihi orang lain justru adalah suatu nikmat yang harusnya dibalas dengan rasa syukur. Tapi, kehidupan dan orang-orang disekitar justru seolah-olah sepakat membuat keyakinan akan keikhlasan ini luntur. Di sekelilingku selalu mencoba untuk memaksaku menjadi manusia yang sempurna dan kalau tidak sempurna kau tidak akan mampu diperhitungkan keberadaannya di sekitar mereka.

Selama aku menempuh jenjang pendidikan, selalu saja ada “ritual pemeringkatan” di sebuah kelas. Ketika kita berhasil menjadi yang terbaik di komunitas, riuh gaduh suara sanjungan datang dari segala arah. Ntah itu dari orangtua, pengajar, atau bahkan yang membuat kepala dan jantung ini semakin besar dan cepat degupannya adalah ketika sanjungan tersebut datang dari seorang teman.
Namun ketika berada dibawah, hal sebaliknya lah yang terjadi. Rasa sanjung dengan cepat berubah menjadi “jaga jarak” yang datangnya dari orang-orang yang justru pada waktu kita berada di langit tertinggi memberikan standing applausenya kepada kita.
Ibarat pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelangga lah yang terjadi saat itu.

Ku kira, pendidikan profesi tidak menuntutku untuk menjadi yang terbaik dan selalu menghasilkan “nilai” sempurna dalam segala hal. Ternyata, hal tersebut saya dapatkan kembali di dunia kampus seperti ini.
Otak ini sudah jenuh.

Rasanya saya ingin menyobek mulut orang-orang yang terus menyatakan bahwa seseorang harus berorientasi pada proses dan jangan hanya berorientasi pada hasilnya saja.
Kenapa? Karena di negara saya dan dunia pendidikan di sekitar saya itu tidak mendukung seperti itu.
Mereka hanya akan melihat orang yang paling bersinar dan secara tak langsung juga menyuruh saya untuk tidak usah bersusah payah memikirkan untuk berada pada tingkat 2, 3, 4, dan seterusnya. Karena hanya orang-orang yang berada pada tingkat 1 lah yang akan dikenang.

Saya jadi bertanya kembali, apakah kesempurnaan itu mutlak dibutuhkan oleh seorang dokter hewan? Apa dokter hewan itu harus selalu sempurna/memuaskan hasilnya dalam berbagai hal?
Lalu apa arti dari kata “menyembuhkan” bagi seorang dokter hewan dan belajar terus menerus sepanjang hayat tak kenal lelah?

Apa seorang dokter hewan yang tidak sempurna “hasilnya” tidak pantas untuk mendapat kesempatan menyembuhkan?

Entahlah…sampai saat ini aku masih mencari jati diriku.

Kedokteran, Sebuah Seni yang Dapat Bersaing dengan Malaikat Maut

Kedokteran, baik manusia, gigi, maupun hewan, adalah seni yang menggabungkan segala aspek bidang disiplin ilmu kelompok sains,
seperti:
– fisika terapan yang dapat berupa konsep mekanika, fluida tekanan, termodinamika, kelistrikan, dan lain sebagainya.
– kimia dalam bentuk konsep biokimia, dan
– terutama biologi.

Bagi seorang mahasiswa kedokteran memang tak mudah untuk menaklukkan segala ilmu yang berbeda-beda namun saling berkesinambungan itu.

Inilah konsekuensi bagi mereka yang memilih jurusan tersebut sebagai profesinya suatu hari nanti. Lelah dan kantuk yang mendera setiap waktu seperti hembusan angin gurun yang mudah datang, namun juga mudah pergi begitu saja.
Bagaimana tidak, belum saja satu ilmu terserap dengan mantap dalam memori otak, tapi sudah dicekoki ilmu-ilmu lain dan begitulah seterusnya hingga mulut ini melafalkan syair yang wajib disenandungkan dan didengar oleh Tuhan, guru, dan orangtua sebagai kunci pertanggungjawaban kehormatan diri terhadap profesi.

Dan pada akhirnya, mereka siap untuk “saling berebut” nyawa dengan malaikat maut dan menjadi makhluk Tuhan lainnya yang berpotensi menjadi pesaing handal bagi mereka.

Dan mengapa ilmu ini digolongkan sebagai seni? Karena kedokteran itu adalah ilmu yang bebas namun teratur. Seperti aliran seni rupa kubisme milik sang pelukis hebat, Pablo Piccaso.
^^”
Jadi, apakah yang membuat langkahmu berat untuk tetap berjuang dan belajar menjadi seorang seniman di Kedokteran?

Catatan seorang Mahasiswa Tahun I Kedokteran Hewan

Aku mulai menapaki awal jalanku sebelum aku ada di tempat ini. Betapa bahagianya ketika itu, hingga rasa bahagia itu dikonversikan oleh otak menjadi sebuah tangisan haru. Perjalananku di sekolah menengah selama bertahun-tahun, akhirnya terbayar sudah dengan apa yang selama ini ku dambakan. Menjadi seorang Dokter Hewan. Ya, itu anganku selama beberapa tahun belakangan ini. Bersusah payah agar dapat bertarung mendapatkan tempat belajar impianku. Otak seakan ingin menjerit karena terlalu keras ia dipakai. Namun, hasil yang sekarang didapat justru seakan membuatku menjadi makhluk yang tak puas akan apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Kaya di jagad ini. Jiwa ini seakan berkata, “Pribadi sekarang banyak mengeluhnya. Tak setegar dulu. Seharusnya kau sadar dengan apa yang telah kau baca waktu itu. Bahwa ketika kau telah memilih Ilmu Asklepios menjadi profesimu, berarti kau telah memilih jalan kesabaran, ketabahan, pengorbanan yang agung untuk sesama, dan yang paling penting adalah menjauhi rasa ingin dipuji oleh banyak orang karena mendapatkan nilai yang bagus. Seorang Dokter hewan bukanlah orang yang ingin lulus dari Sekolah Dokter Hewan dengan title pujian. Sehingga orang tersujud-sujud jika orang tersebut lewat di depan mereka. Buang jauh-jauh pikiranmu untuk dipuji oleh orang banyak karena title Dokter Hewan mu dan ingin mendapatkan predikat CUMLAUDE hanya karena untuk dipamerkan ke orang banyak kalau kau itu cerdas, kalau kau itu istimewa, dan alasan-alasan picik lainnya yang hilir mudik di dalam otak setanmu itu”.

Kepintaran dan kecerdasan bukanlah mukjizat, melainkan anugrah yang bukan hanya untuk ditulis dalam sebuah kertas istimewa namun harus dapat dibuktikan dan dipakai untuk kemaslahatan para hewan dan umat manusia di muka Bumi ini. Itulah yang seharusnya ada dalam diri seorang calon Dokter Hewan. Karena bahwasannya, bagi seorang Dokter Hewan kesuksesan tidak bisa diukur dari sebuah nilai yang bisa didapatkan dari mana saja. Namun kata sukses bagi seorang Dokter Hewan adalah sebisa mungkin menyelamatkan nyawa pasiennya walau sekecil apapun dan akan lebih sukses lagi apabila ia juga mampu menyelamatkan hati pemilik hewan karena hewan kesayangannya sedang diambil alih oleh kita. Jikalau Ia mampu melakukan kedua hal tersebut, maka itulah orang yang pantas untuk dapat dikatakan sebagai Dokter Hewan. Mendapatkan kepercayaan klien sangatlah sulit, namun mendapatkan kepercayaan seekor pasien untuk kita obati merupakan hal yang paling sulit untuk didapatkan. Karena nilai tinggi dalam teori atau bahkan predikat lulus tertinggi sekalipun tidak bisa menjamin untuk bisa mendapatkan kepercayaan itu. Ikhlas, Sabar, Pantang Menyerah dalam segala hal, dan pengorbanan merupakan konsep dasar bagi seorang Dokter Hewan agar Ia mampu menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan utuh dan sebenar-benarnya.

Apa yang kau rasa, apa yang kau lihat, dan apa yang kau dengar sekarang ini adalah bentuk cambukan istimewa yang bisa mendidikmu menjadi pribadi yang kuat mentalnya.
Semoga setelah kau menulis ini semua, jiwamu bisa lebih tenang menapaki jalan yang sudah kau pinta kepada Sang Maha Pemilik Segalanya.

Selamat datang di dunia nyata, calon:
drh. Rifky Rizkiantino

SEBUAH SURAT UNTUK DOKTER HEWAN DAN MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN

 Rekan sejawat yang terhormat,

 

 

Jika Anda masih ragu untuk menapaki jalan profesi ini, sebaiknya cepatlah menepi dan meyakinkan diri, Anda harus mundur.

Daripada Anda mengorbankan nyawa hewan yang sesungguhnya juga punya makna karena keragu-raguan Anda itu.

 

Jika Anda masih hanya memikirkan dan membandingkan deretan angka dalam rupiah yang akan Anda peroleh selama menjalankan tugas mulia ini, sebaiknya segeralah mencari seseorang untuk berbisnis dengan Anda dan mengganti gelar medis veteriner yang terketik di depan kartu nama Anda dengan gelar yang dapat Anda gunakan untuk dapat memperoleh lembaran kertas merah berharga yang lebih banyak lagi.

 

Jika masih malu untuk mengakui diri sebagai tenaga medis bagi para hewan di luar sana, sebaiknya bergegaslah untuk mencari pekerjaan lain yang menurut Anda lebih hebat.

 

Dan jika berpikir menjadi seorang dokter hewan hanya untuk semata-mata bergaya dengan jas putih dan stetoskop di leher sehingga Anda bisa mendapatkan decak kagum tetangga dan orang-orang di sekitar, sebaiknya segeralah tanggalkan dua benda luhur itu dan simpanlah rapat-rapat di lemari kamar Anda.

 

Dokter hewan diciptakan bukan untuk itu kawan……

 

Memilih menjadi dokter hewan bukan hanya sekedar agar bisa bergaya dengan rumah mewah dan jas putih kebanggaan di depan semua orang. Bukan cuma hanya sekedar pelampiasan emosi diri yang tertolak dalam jurusan yang kita inginkan.

 

Menjadi seorang dokter hewan, berarti jalan perjuangan. Tak lelah memerjuangkan hak hidup hewan-hewan di dunia. Yang selama ini tak pernah dihiraukan nyawanya oleh manusia egois yang seolah-olah menguasai bumi dengan keangkuhannya.

 

Menjadi dokter hewan, berarti memilih jalan kasih sayang antarmakhluk Allah di dunia. Ketika melihat seekor anak kucing kotor yang terlungkup lemas sendirian, dengan ikhlasnya kita mengelus dan memberinya secercah harapan tuk hidup dan tumbuh hingga ia dewasa.

 

Memilih menjadi dokter hewan, berarti memilih jalan pengabdian untuk sesama.

Mengabdi bagi masyarakat yang masih asing dengan daging dan susu setiap harinya.

Mengabdi untuk para pemilik ternak dan hewan yang masih enggan untuk membawa hewannya kepada seorang dokter hewan dengan berbagai alasan.

 

Menjadi dokter hewan, berarti memilih jalan empati.

Menjadi tim medis pemeriksa hewan di sekitar lokasi terjadinya bencana alam dengan tidak dibayar sepeser pun adalah hal yang lumrah.

 

Menjadi dokter hewan adalah memilih jalan kepedulian.

Dengan ikhlasnya memberikan tindakan medis di malam hari yang hujan kepada seekor anak kucing dekil yang dibawa oleh seorang nenek tua renta yang menangis-nangis meminta kucingnya itu agar disembuhkan.

 

Menjadi seorang dokter hewan berarti memilih jalan ketegasan. Ketika mendapati hewan yang tersakiti, maka kita seharusnya bisa dengan tegas berkata,”hewan juga merasakan sakit dan perbuatan itu harus dihentikan” .

 

Dokter hewan adalah sebuah frasa yang tak ringan maknanya.

Menjadi dokter hewan, berarti telah berkomitmen untuk memfokuskan pikiran kepada seluruh usaha penyembuhan pasien.

Dengan menjadi seorang dokter hewan, kita tidak hanya sekedar dituntut untuk dapat menyembuhkan pasien, namun kita juga dituntut untuk dapat menolong hati pemiliknya.

 

Dokter hewan adalah sepenggal harap bagi hewan di muka Bumi untuk dapat membantu mereka agar terus merasakan sejuknya udara di malam hari dan hangatnya sinar mentari di siang hari.

 

Dokter hewan adalah sebuah tanggung jawab besar, di mana setiap nyawa dan hembusan napas adalah makna bagi dirinya.

 

 

*NB:

Bukan maksud untuk menggurui, namun hanya ingin sekedar mengingatkan rekan sejawat kembali tentang tugas mulia kita yang seharusnya kita prioritaskan dalam mengamalkan secuil ilmu Allah yang kita peroleh.

 

Memang terbaca agak idealis, namun inilah kenyataan sebenarnya yang harus kita perjuangkan. Agar idealisme yang selama ini menjadi bahan olokan dan cemooh orang-orang diluar sana dapat terwujud menjadi sebuah realita yang dapat mengantarkan kebahagiaan bagi semua makhluk.

 

Menjadi kaya raya silahkan,

Menjadi terhormat pun silahkan,

Namun janganlah menjadikan itu sebagai tujuan utama hidup kita.

 

Profesi penyembuh adalah pekerjaan yang lebih mementingkan panggilan kemanusiaan daripada keuntungan semata.

Karena bayaran yang sesungguhnya hanya dapat kita rasakan ketika kita telah benar-benar ada di kehidupan surga nantinya.

Dimana profesi apapun sudah tidak lagi dianggap hebat oleh siapapun.

 

11 Desember 2011

Rifky Rizkiantino

Viva Veteriner

AGRARISME INDONESIA YANG SEMAKIN LUNTUR

     Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya. Perjalanan pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa pembangunan pertanian di negeri kita ini memiliki peranan penting bagi kelangsungan kehidupn masyarakatnya. Antar lain: potensi Sumber Daya Alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian seluruhnya.

     Hati ini pun langsung membenarkan terhadap pernyataan yang ada pada salah satu opini dari seluruh mahasiswa pertanian Indonesia di atas. Inilah kenyataannya, Bangsa Indonesia seakan sudah lupa terhadap akar kebudayaan nenek moyangnya sendiri di masa lalu. Pertanian merupakan satu dari sekian banyak kebudayaan yang telah lama ada di tanah air ini. Di mulai pada awal peradaban paleolitikum hingga peradaban neolitikum yang semakin maju pada saat itu. Nenek moyang kita sudah mengenal pertanian sudah sejak dulu kala bahkan sebelum tulisan dikenal oleh manusia. Dari sistem nomaden hingga membuka hutan untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Sehingga dapat saya katakan bahwa pertanian sifat dan tempatnya seharusnya sama dengan peninggalan sejarah dan kebudayaan lainnya, seperti Kain Batik, Angklung, Reog Ponorogo, dan sejenisnya yang keberadaannya juga harus dijaga. Karena bagi Bangsa Indonesia, pertanian bukan hanya sekedar bidang kehidupan namun juga merupakan warisan nenek moyang yang harus tetap lestari. Apalagi ditambah dengan pertanian adalah bidang yang menyatakan hidup dan matinya kehidupan suatu bangsa dan negara karena ini menyangkut masalah perut rakyatnya. Tapi masyarakat seakan tidak peduli terhadap bidang penyokong primer di kehidupan mereka ini. Seakan-akan mereka dengan sengaja menutup mata dan telinganya terhadap berbagai masalah yang berhubungan dengan pertanian karena terlalu asik terhadap pekerjaan mereka yang menurutnya sangat tidak ada hubungannya dengan pertanian itu.

     Jikalau terdapat satu perhatian khusus saja dari mereka, mungkin pertanian negara kita ini dapat lebih berkembang. Karena menurut saya, setiap orang bisa menjadi masyarakat pertanian tanpa harus menimba Ilmu Pertanian secara formal di bangku kuliah. Cukup dengan mengkonsumsi produk pertanian dalam negeri saja sudah cukup signifikan pengaruhnya terhadap pembangunan sektor penting satu ini. Jika saya melihat pertanian dalam arti luas, sudah banyak sekali subpokok yang seharusnya dapat dijadikan kesempatan untuk menyetarakan dan memajukan pertanian dalam arti luas ini di negeri sendiri. Contoh kesempatan itu ada pada kasus diberhentikannya pasokan daging sapi pedaging kita oleh pemerintah Australia. Walaupun alasan dari peristiwa yang terjadi pada beberapa bulan tu sangatlah memalukan, namun terlepas dari itu semua seharusnya kesempatan tersebut dipakai oleh para peternak domestik untuk semakin gencar mendistribusikan hasil peternakannya kepada masyarakat Indonesia agar kebutuhan daging, yang menurut saya dapat terpenuhi tanpa harus mengimpornya dari pihak lain, dapat membantu peternak lokal untuk dapat berkembang. Sehingga lambat laun pun kita mungkin dapat mencanangkan swasembada daging bagi kebutuhan pangan hasil hewan bagi seluruh masyarakat di Indonesia tanpa perlu takut terhadap pemberhentian pasokan daging impor bagi masyarakat kita. Begitu juga terhadap pertanian sesungguhnya. Sepanjang masyarakat kita masih menganggap pertanian merupakan bidang penting demi keberlangsungan kehidupan mereka, maka pertanian itu pun juga masih memiliki kesempatan untuk melakukan peran pentingnya bagi kita semua. Maka dari itu, cintailah pertanian Indonesia tanpa harus menjadi seorang petani di sawah, kebun, ataupun ladang. Bijak dalam memilih produk pertanian untuk kita dan keluarga konsumsi justru sudah memberikan kontibusi yang nyata jika dibandingkan dengan orang yang hanya mengucapkan di bibir saja atau acuh tak acuh terhadap kondisi pertanian bangsanya sendiri.

KONDISI DAN PRODUK PERTANIAN BEKASI

Bekasi merupakan salah satu daerah yang letaknya terdapat di Jawa Barat dan juga ikut berkontribusi dalam bidang agraris di Indonesia. Letaknya yang juga menunjang lahan pertanian mejadikan wilayah ini dapat menunjang pangan masyarakatnya setiap tahun. Padi merupakan komoditas primer disini yang sangat diupayakan keberhasilan panennya karena merupakan komponen pangan utama.

Memang pada tahun 2010, lahan pertanian di daerah ini sempat dilanda gagal panen akibat serangan hama wereng yang melanda hampir seluruh pertanian di Kabupaten Bekasi yang membuat target panen tahun tersebut jauh dari harapan. Penyebab serangan hama wereng 2010 lalu karena iklim di Kabupaten Bekasi lembab. Dan itu menjadi tempat favorit hama wereng. Namun pada tahun 2011 ini, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan ( BP4KP ) Kabupaten Bekasi memprediksi,hasil panen akan melebihi target. Target tanam 2011 mencapai 92.884 ton per hektar, panen 90.197 ton per dua musim panen. Dan ketika waktu panen tiba, tenyata hasilnya memang diluar dugaan dan berhasil sukses yang ditandai dengan adanya panen raya di Pebayuran, Kabupaten Bekasi.

Kesuksesan panen tersebut dapat terjadi karena lantaran diberlakukannya musim tanam yang hampir bersamaan, iklim yang baik, dan sarana pendukung yang menunjang. Total lahan pertanian Kabupaten Bekasi yang seluas sekitar 56 ribu hektar tersebut mampu memenuhi kebutuhan pangan. Dengan hasil panen tersebut diperkirakan juga mampu meningkatkan perekonomian para petani di Kabupaten Bekasi. Namun disayangkan, lahan pertanian yang ada setiap tahunnya semakin berkurang. Beralihnya fungsi pertanian menjadi lahan pemukiman ataupun industri membuat ketahanan pangan terus berkurang. Berdasarkan ketetapan Kementerian Pertanian, Beber Yetta, setiap kota/kabupaten wajib memiliki 25 ribu hektar sampai 35 ribu hektar lahan abadi untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Meski di Bekasi memiliki lahan yang luasnya sempit, namun masih dapat optimis bahwa Bekasi mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya secara otonom.